30 April 2009

Penang (Malaysia)


Ke Korea ikut tour. Agen yang memberangkatkan kerjasama dengan biro travel. Waktu itu rombongan kami ada hampir sekitar 20 orang. Tournya dimulai dari Penang (Malaysia), Thailand dan baru Korea. Orangnya gado-gado, cewek dan cowok, tua-muda. Dari LP ada sekitar 4 orang, sisanya dari Medan.

Dari Medan ke Malaysia ngga perlu Visa dan fiskal. Cukup passport, tiket pesawat dan uang secukupnya. Perjalanan cuma sekitar 35 menit dengan pesawat. Jadi, belum juga kursi pesawat panas, sudah sampai. Baru aja pasang seat belt untuk take off, tahu-tahu sudah landing. Emang dekat sih kalau dari Medan ke Malaysia. Kalau kebetulan anda berniat ke sana dan lagi bokek, modalnya cuma satu, kuat berenang. Berenang aja.... pasti deh sampai. Kalau ngga sampai Malaysia, ya sampai rumah sakit.

Sampai di hotel (Penang) masih sekitar jam 12 siang, karena cuma 1 malam di Penang, Tas ngga dibongkar. Cuma mandi dan ganti baju. Setelah sore baru jalan-jalan ke KOMTAR (Kompleks Tun Abdul Rajak), semacam pusat pertokoan. Disana window shopping. Just walking-walking. Pulang dari sana mampir makan di warung pinggir jalan. Banyak menu dan pilihannya. Sebelum sampai hotel, mampir beli air mineral dan soft drink. Sama yang jual, saya diajak ngomong pakai bahasa Mandarin. Untunglah saya rajin belajar sama Andy Lau, Jacky Chen, Chow Yun Fat, Stephen Chow dan beberapa lagi guru yang sudah saya lupa namanya. Kursus jarak jauh, lewat lagu, dan film mereka. Terus praktek langsung di Taiwan selama 2 tahun. Ya.... kalau cuma sekedar “wo ai ni' dan “sie sie” pasti sudah hapal luar kepala.
Tadinya saya kira bisa lihat menara Petronas dan sirkuit Sepang. Ngga tahunya masih jauh. Kalau naik bus masih sekitar 5-6 jam perjalanan. Batal deh.

Malam, sehabis makan ngga ada kerjaan. Sama tour leader diajak jalan-jalan pakai becak keliling kota. Ngga seru sih, cuma duduk bengong liat kota orang. Kalau duduk berdua sama pacar sih masih mending. Ini duduknya sama-sama cowok. Bisanya cuma melongo, sepooo. Masih untung ongkos becaknya dibagi dua. Kalau disuruh bayar, mending saya sendiri yang kayuh becaknya. Lumayan khan buat tambahan jajan nanti di Korea.

Pulang dari “kencan” naik becak, sudah harus siap-siap. Besok pagi sekitar jam 5 pagi sudah harus ke bandara udara. Next destination.... Thailand. Negara gajah putih (meskipun ternyata ngga ketemu gajah yang putih disana).

The Spooks Apprentice


The Spooks Apprentice
Judul : The Spooks Apprentice
Pengarang : Joseph Delaney
Tebal : 326 halaman
Lama baca : 28/04/2009 s/d 29/04/2009
Nilai : Bagus

Tadinya saya berharap buku ini besar dan tebal, seperti Magician atau Brisingr. Makanya agak kaget dan kuciwa waktu di toko buku dan ditunjukkan bukunya yang kecil dan imut. 326 halaman dengan ukuran buku yang kecil plus font tulisan yang cukup besar menjadikan buku ini sama seperti snack (ringan dan renyah).
Rencananya sih mau mulai baca tanggal 25 april kemarin, tapi bukunya belum sempat disampul. Akhirnya malah baca ulang komik Detektif Conan Special. Kemarin akhirnya buku ini saya sampul bersama dengan puluhan teman-temannya.

Waktu berangkat kerja sekitar jam 7 pagi, mulai baca buku ini dan akhirnya keterusan. Sampai tiba di kantor sekitar jam 8.45 baru berhenti. Lumayan sudah mencapai halaman ke 156. Agak berat sih untuk berhenti, lagi seru-serunya dan penasaran sama kelanjutannya.

Ceritanya tentang seorang anak yang bernama Thomas J.Ward (Tom), Anak ketujuh dari Ayahnya yang juga anak yang ketujuh. Mempunyai kemampuan untuk merasakan dan melihat makhluk dunia lain. Kemudian dijadikan murid seorang Spook yang bernama Gregory.
Ujian pertamanya Tom ditinggal di sebuah rumah tua berhantu. Sendirian dan cuma dibekali sebatang lilin dan diberi 3 pesan yaitu: jangan buka pintu depan, jangan terlambat ke ruang bawah pada waktu jam 12 tengah malam dan jangan sampai lilinnya padam.

Pembaca pasti sudah bisa menebak kalau Tom lulus, ya...kalau gagal berarti ngga ada lanjutannya. Namanya juga murid dan baru berumur 13 tahun. Tom itu masih perlu banyak belajar, masih terlalu polos sampai ngga sadar kalau dimanfaatkan. Seorang penyihir tua yang bernama Mother Malkin lolos. Tapi sebagai murid yang baik dan Spook, Tom berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang dia buat.

Ceritanya mengalir dengan cepat, ngga bertele-tele. Gampang dicerna seperti snack (kecuali anda mengalami gangguan pencernaan). Meskipun ringan dan renyah tapi rasanya memang enak. Ngga mengecewakan.

28 April 2009

Danau Toba


Setelah masalah gigi selesai, saya meninggalkan Jogya (2001). Tujuan berikutnya adalah LP (Lubuk Pakam), 2 tahun meninggalkan LP, rasanya kangen juga. Sekalian mau perpanjang KTP. Daripada nanti dirazia dan ditangkap.
Karena sudah besar, ngurus KTP sendiri. Pakai sepeda motor, langsung ke kantor Camat. Ternyata sangat gampang dan cepat. Langsung jadi, soalnya saya perlu KTP nya, mau berangkat ke Prapat ( Danau Toba ). Waktu saya tanya biayanya, petugasnya cuma bilang terserah. Bingung juga, masa petugasnya mau kalau cuma saya kasih “terserah”. Padahal sebelum berangkat, Papa saya sudah bilang kalau biayanya paling cuma 5 or 10 ribu. Akhirnya saya kasih 10 ribu. Beres, lagian petugasnya juga ngga protes.

Pergi ke Danau Toba benar-benar mendadak dan ngga pakai persiapan. S.Kok saya culik untuk menemani. Sudah lama ngga ketemu dan sekalian ngomongin bisnis. Rencananya mau ternak ikan hias. Dari LP naik bus dan turun di Pematang Siantar. Habis itu bingung mau naik apalagi, akhirnya ada taksi dan sepakat naik itu dengan membayar 60 ribu.

Terakhir kali ke Danau Toba waktu perpisahan SMP (1990). Sudah 11 tahun, tapi kok rasanya ngga banyak berubah. Cuma agak sepi, atau mungkin karena bukan musim liburan atau akhir pekan. Dari sana naik perahu, nyeberang ke pulau Tuk Tuk. Nginap disana.

Pulaunya kecil, hotelnya lupa namanya. Cukup nyaman. Depannya langsung Danau Toba. Ada banyak ikan (sejenis nila atau mujair), lumayan besar. Ada yang jual pancing, jadi beli pancing dan mancing disana. Ikan yang dapat dikumpulin dan dimasukkan ke kolam dekat kamar hotel. Tinggal di pulau Tuk Tuk seperti terpisah dari dunia luar. Jadi ingat acara reality show “Survivor” di TV. Suasananya sama, cuma beda makan dan tidurnya. Kalau Survivor harus setengah mati cari makanan, disini tinggal ke lobby atau angkat telpon. Tidur juga nyaman pakai AC.

Dua hari nginap disana. Lumayan buat refreshing. Bangun pagi, makan terus renang atau mancing. Jalan-jalan sampai sore. Habis itu mancing atau renang lagi. Kalau sudah malam baru bingung mau ngapain. Gelap, akhirnya cuma di kamar dan ngobrol. Cerita, mulai dari masa lalu (zaman dinosaurus) sampai masa depan.
Balik lagi ke LP, ngga lama kemudian saya diberitahukan kalau sebentar lagi akan berangkat ke Korea.

Sisik Mutiara (Pearl Scale)


Tahun 2001, waktu saya pulang ke LP, di lantai atas rumah ada kolam besar ukuran 3 x 8 dan tingginya 1,5 meter. Tadinya dibuat koko untuk piara ikan bawal. Tapi ngga jadi. Lagian agak berbahaya. Dengan ukuran sebesar itu dan diisi air penuh, takutnya ngga kuat. Terbukti lantai 2 ada sedikit resapan air di langit-langitnya.

Sayang juga kolam sebesar itu ngga dimanfaatkan. Apalagi saya yang hobi ikan. Waktu saya cerita sama Koko rencana saya untuk piara ikan hias, dia setuju. Lagian kolamnya itu juga sudah disekat menjadi 3 kolam. 1 besar dan 2 agak kecil. Malah saya diajak ke tempat temannya yang punya peternakan ikan hias. Disana beli bibit ikan koki pearl scale (sisik mutiara). Itu lho, ikan yang bentuknya bulat menggemaskan seperti bola. Badannya bintil-bintil, kalau berenang megal-megol.

Masih kecil sih, baru sekitar 2-3 cm dan ada sekitar 500 ekor. Borong 1 kolam harganya sekitar 150 ribu atau 200 ribu (sudah lupa). Senang juga bisa jalan-jalan dan lihat koleksi ikan hias meskipun milik orang lain. Singkat cerita ikannya dibawa pulang dan pindah ke kolam di atas rumah.
Ohya, kebetulan koko punya pompa air. Saya tinggal membuatkan tempat untuk filternya. Tapi perlu juga ke toko buat beli kabel, selang dan aerotor (alat untuk buat gelembung udara). Juga beli terpal plastik untuk tutup kolam. Kalau pas siang hari ditutup, supaya ngga terlalu panas dan airnya ngga cepat kotor atau tumbuh lumut.

Faktor utama memelihara ikan hias adalah kolam, air, ikan dan makanan. Paling bagus kalau diberi pakan alami. Untuk masa pertumbuhan yang bagus adalah cacing sutera. Karena sebagian masih kecil, cacing sutera itu saya cincang biar agak halus. Ya, ibarat ngasih makan mie buat anak kecil. Khan harus dipotong-potong biar gampang dimakan.
Tiap 3-4 hari sekali beli cacing sutera. Sekali beli 2 kaleng susu banyaknya. Harganya kalau ngga salah waktu itu sekitar Go Ceng ( 5 ribu ). Asyik juga sih, jadi ada kesibukan. Beli cacingnya agak jauh, pakai sepeda motor. Yang jual juga punya peternakan ikan hias. Masih ingat dengan cerita “ikan ajaib” yang saya posting beberapa waktu lalu. Nah.... disanalah tempat kejadian itu.

Kalau sudah kesana, paling cepat 2 jam baru pulang ke rumah. Biasanya sampai sana langsung jalan-jalan keliling dari satu kolam ke kolam yang lain. Kadang ngobrol sama yang punya atau karyawannya. Atau ngobrol sama teman yang kebetulan juga kesana.

Minimal satu hari 2 kali saya ke atas lihat ikan. Bangun pagi dan waktu sore sekitar jam 5. Enak juga buat hilangin stress. Capeknya kalau mau ganti air. Pembuangan airnya terlalu kecil. Makanya lambat. Kalau mau nguras kolam, jam 5 pagi sudah mulai saya buang airnya. Biar bisa selesai cepat, sebelum panas.

Sisik mutiara dibesarkan di kolam yang besar, di kolam yang kecil saya piara ikan koki jenis Red Cap dan Oranda. Ada 2 pasang yang sudah dewasa, katanya diberi oleh temannya koko. Ngga sampai 1 minggu saya piara sudah bertelur. Cuma dikit, waktu netas dan sudah mulai kelihatan, saya hitung jumlahnya cuma sekitar 100 ekor. Normalnya minimal 500 ekor atau bahkan ribuan ekor sekali netas.

Dua bulan kemudian sisik mutiar sudah besar, dari sekitar 500 ekor sisa sekitar 200 ekor. Rata-rata perutnya sudah sebesar bola golf, bahkan ada beberapa yang lebih besar. Ada sekitar 20 ekor yang saya pilih, rencananya mau dijadikan indukan. Ada yang warnanya hitam putih seperti panda. Lucu.
Sayangnya rencana itu ngga terwujud, saya keburu berangkat ke Korea. Semua ikannya dijual, Koko ngga ada waktu ngurusin.

25 April 2009

Gigi ( Jogya 2001 )


Naik bus dari Bogor ke Jogya. Berangkatnya sekitar jam 11 siang. Sampai di terminal Jogya sekitar jam 4 pagi. Barang semua sudah saya packing ulang. Tinggal 1 koper ukuran medium, dan satu tas ransel.

Seperti biasa, adik saya (Sud) yang kebagian jemput. Karena masih terlalu pagi, sungkan juga sih. Meskipun sewaktu berangkat tadi sudah ada pemberitahuan ke Sud. Saya telpon Sud dari wartel di terminal (belum sempat beli HP sejak tiba di Indonesia), untunglah Sud siaga 24 jam. Setelah tahu kalau saya sudah ada diterminal, dia langsung berangkat dari tempat kostnya. Sambil menunggu dijemput, saya minum teh di warung.

Sampai di tempat kost baru jam 5 pagi. Setelah ganti baju dan beresin barang, ngobrol dengan Sud. Paginya baru diajak ketemu dengan teman-teman yang ada di Jogya. 2 tahun ngga ketemu rasanya ngga banyak yang berubah. Cuma saya yang dapat tambahan julukan “Mahong (mafia Hongkong)”, padahal khan saya ke Taiwan, bukan Hongkong. Harusnya jadi “Matai (mafia Taiwan)”.
Sud sudah kerja, adik saya yang paling kecil (Mel) juga sudah kuliah di UPN Jogya. Ohya, HP saya yang dari Taiwan saya kasihkan ke Mel, Hpnya hilang waktu naik bis. Selama di Jogya beberapa kali makan-makan bareng Sud dan Mel.

Di jogya, Sud mengenalkan dokter gigi ke saya. Kebetulan saya mau servis gigi. Masih ingat kejadian waktu ke dokter gigi di Taiwan yang disuruh cabut, saya ngga mau. Makanya sekarang, mumpung bisa saya konsultasi ke dokter gigi rekomendasi Sud. Ternyata memang ngga perlu dicabut, bisa ditambal. Memang lebih canggih Indonesia.

Gigi itu memang sudah lama bermasalah, keropos di dalam dan sudah mulai berlubang. Belum sakit sih, tapi daripada nanti terlambat, mendingan dibetulin sekarang. Ternyata benar dugaan saya benar, setelah diperiksa dan dinyatakan perlu perbaikan, gigi saya langsung dipermak. Tanpa basa-basi langsung dibor sama dokternya. Begitu dibor dan berlubang, keluarlah bau yang semerbak dari gigi tersebut. Saya yang lagi “dikerjai” dokter cuma bisa mengerutkan dahi dan dalam hati berpikir,”buset... kok bau banget ya.” Untunglah dokternya pakai masker (meskipun mungkin ngga bisa banyak membantu menghilangkan baunya), tapi untunglah dokternya ngga jatuh pingsan dengan bau itu. Mungkin ini alasan dokter Taiwan ngga mau tambal gigi itu, ngga kuat sama baunya, he he..

Penderitaan belum berakhir, giginya ngga bisa langsung ditambal karena rusak parah. Akibatnya saya kesulitan makan. Sama Sud dibuatkan juice buah. Ya, akhirnya diet, cuma minum juice. Tapi beruntung gigi akhirnya bisa ditambal dan sampai sekarang masih OK.