11 May 2009

Rainbow


Tahun 2008 lalu saya pernah pinjam dan baca komik ini. Waktu itu cuma sempat baca yang seri 1 sampai seri 5. Ceritanya memang asyik. Terus lama berhenti, sudah lupa dan ngga pinjam lagi. Sampai kira-kira sebulan yang lalu, pinjam lagi dan akhirnya memutuskan untuk membeli.

Kebetulan bulan lalu ( April 2009 ) sudah keluar sampai seri 10. Makanya langsung beli 10 buku dan mulai baca lagi dari seri 1. Ternyata memang ceritanya bagus, menarik, seru dan mengharukan. Dan kemarin ( 07 Mei 2009 ) saya beli yang seri 11.

Komik karangan Abe George dan Kakizaki Masasumi ini mendapat penghargaan sebagai pemenang Shogakukan Manga Awards ke 51. Ceritanya tentang 7 pemuda yang menghuni sel 6 gedung 2 pada tahun 1950 an. Alur cerita maju-mundur, satu persatu tokoh diceritakan. Mulai dari masa kecil dan mengapa sampai masuk penjara. Cerita terus berlanjut sampai mereka akhirnya bebas dan memulai hidup baru dalam masyarakat. Persahabatan tetap berjalan, tapi masalah masih ada.

Walau alurnya maju-mundur, tapi sama sekali ngga mengurangi ketegangan cerita. Pembaca bisa merasakan emosi yang naik turun. Ohya, selain ceritanya, gambarnya juga bagus dan besar. Ekspresi tokohnya jelas.
Komik Rainbow ini untuk konsumsi 17 tahun ke atas. Banyak adegan kekerasan dan seks. Perkelahian yang sampai berdarah-darah ditunjukkan dengan jelas lewat gambar dan cerita. Adegan seks bukan sekedar tempelan, jadi jangan berpikiran yang negatif dulu. Benar-benar mendukung jalannya cerita.

Judul tiap chapter di komik ini memakai bahasa Inggris, dan itu adalah judul lagu. Pengarangnya suka lagu rock. Memang sih kebanyakan lagu Jepang. Tapi ada juga judul lagu terkenal, seperti di seri 11 ini. Ada lagunya Mr..Big yang judulnya Going To The Wind Blow.

Anda yang sudah dewasa jangan sungkan untuk membaca komik ini, biarkan perasaan dan emosi terbawa hanyut bersama alur cerita, nikmati gambarnya. Bagi yang belum dewasa atau cuma merasa dewasa... bersabarlah. Jalan masih panjang. Lihat sisi positipnya, sambil menunggu menjadi dewasa, komik ini keluar terus kok. Mudah-mudahan aja pas anda sudah dewasa, komiknya sudah keluar dan tamat. Jadi bisa puas bacanya.

Bahasa


Biasanya kalau ke daerah yang baru, yang penting dipelajari adalah budaya dan bahasa. Kalau masalah makanan bisa gampang adaptasi. Saya sebenarnya sudah dibekali sewaktu di Indonesia. Ibarat pesilat, sudah berlatih dan diwariskan ilmu. Meski belum tamat, saya sudah keburu kabur dan turun gunung, tapi untunglah bisa bertahan hidup.

Kebetulan waktu di Jogya lumayan sering ketemu orang Korea, makan Kimci juga sudah sering. Huruf Korea juga sudah hapal (kata teman kok semuanya cuma lingkaran dan balok). Tulisan bisa baca, cuma banyak yang ngga tahu artinya. Tapi itu sudah cukup, ngga bakalan nyasar lagi kalau naik subway atau bus.

Waktu kabur dari hotel, kami semua dikumpulkan dulu di apartemen yang disewa oleh agen. Di sana tinggal sekitar 10 orang. Ditambah 20 orang kelompok kami langsung penuh. Tapi cuma sementara, soalnya ngga lama kemudian langsung didistribusikan untuk kerja di tempat-tempat yang ada lowongannya. Banyak yang langsung kerja, paling sisa sekitar 5 orang yang nunggu giliran kerja, karena masih bingung mau milih yang mana.

Karena ada yang sudah tinggal lama di Korea, maka bahasa Koreanya juga sudah lumaya. Sebagai pendatang baru, kami ditraining dan diajari bahasa Korea ala kadarnya. Lucu juga sih, apalagi waktu diajari ngomong “100 won” dalam bahasa Korea. Yang benar itu “baek won/ bek won”, tapi waktu sampai ke telinga pendatang baru berubah menjadi “bey gon”. Dan senior yang ngajar lebih ekstrim lagi, katanya ingat aja 'baygon.”

Pernah satu kali, waktu saya sudah sekitar 1 tahun di Korea, terus lihat ada toko yang jual ice cream tart (saya maniak ice cream). Akhirnya saya tertarik dan masuk untuk beli (padahal waktu itu masih dingin, salju baru aja mencair). Setelah milih ice cream tart dan bayar, saya ditanya sama penjualnya (pakai bahasa Korea),....... myot ke?”
Saya ngga memperhatikan kalimat depannya, cuma nangkap kata terakhir (myot ke) yang artinya berapa buah/biji. Saya pikir dia nanya ke saya perlu sendok berapa biji. Akhirnya saya jawab aja,”tu ge” ( dua biji). Penjualnya menatap saya sebentar, terus memasukkan lilin sebanyak 2 biji.

Ternyata, yang dia tanyakan adalah perlu lilin berapa biji. Mungkin karena ice cream tart itu dikira untuk yang ulang tahun. Dalam hati yang jual pasti bingung, kok cuma 2 biji lilinnya. Masa yang ulang tahun umurnya 2 tahun. tapi baru 2 tahun kok dibelikan es krim. Lagian cuaca masih dingin. Pasti ada yang ngga beres dengan pembeli ini.

Saya cuek aja, begitu dapat barangnya langsung pulang dan makan. Teman sekamar saya tawarin, tapi makannya cuma sepotong kecil. ¾ es krim itu saya habiskan. Sisa ¼ buat besok. Puas... akhirnya bisa makan es dalam jumlah banyak.

07 May 2009

Everland


Hari ke 2 di Korea diajak jalan-jalan ke Everland. Seperti Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta. Enak juga sih, masih bisa lihat salju. Meskipun tinggal sisanya sedikit (lebih mirip orang buang es serut, cuma jumlahnya banyak).

Sempat coba beberapa permainan, seperti naik perahu (mirip arung jeram). Yang paling seru waktu naik roller coaster. Ngga seberapa menegangkan sih kalau menurut saya. Cuma asyik lihat teman-teman menjerit dan ketakutan. Malah ada satu orang (yang membawa kami kerja di Korea) sampai menjerit terus ngga berhenti, wajahnya pucat seperti orang shock. Waktu sudah selesai dan turun, dia bilang,”lebih baik saya dipukul dan dikeroyok orang banyak, daripada disuruh naik ini lagi.” Teman-teman yang dengar semuanya ketawa. Padahal badannya besar seperti bodyguard.
Sebenarnya lumayan asyik juga naik roller coaster, saya naik 2 kali. Tapi masih lebih seru waktu dulu naik Tornado di Taiwan. Di bawa naik tinggi dan diputar-putar, dibolak-balik, diaduk-aduk seperti buat telor dadar. Naik 2 kali langsung kepala pusing.

Sorenya diajak jalan-jalan keliling kota dan makan. Setelah itu nginap di hotel yang ada di gunung. Katanya sih dekat dengan perkampungan kuno. Tapi saya lupa namanya. Ngga ada kegiatan apa-apa malam harinya. Cuma main game di lobby dan nonton tv di kamar.

Hari ke 3 diajak jalan-jalan naik perahu, keliling sungai, lihat gunung. Banyak yang ngga tertarik, soalnya cuma ada air sungai yang warnanya seperti coklat susu, dipinggirnya dihiasi tebing warna serupa plus sedikit warna hijau. Yang agak menarik justru waktu ke kamar kecil. Seperti WC jaman dulu, cuma ruang dari papan, bawahnya bolong dan kotorannya langsung jatuh. Jadi bisa kelihatan semuanya. Cuma numpang pipis aja disana.

Sekitar jam 1 siang acara selesai dan kembali ke hotel, tapi bukan yang di gunung. Kali ini di daerah kota. Waktu malam datang teman-teman dari Indonesia yang sudah lama kerja di Korea. Kami semua diajak kabur dari hotel. Ya... berakhirlah masa liburan di Korea. Dan saatnya untuk mulai bekerja.

Imigrasi Korea


Dari Thailand masih siang, sampai di Korea sudah sore, sekitar jam 5 sore waktu Korea. Waktu itu bulan Pebruari, udara masih dingin. Salju baru saja mencair. Sebelum turun dari pesawat, semua anggota tour giliran masuk toilet, disuruh dandan yang rapi dan wangi. Supaya kelihatan seperti turis.

Waktu turun dan mau melewati petugas imigrasi Korea, beberapa orang teman dicegat dan ditahan. Saya dan teman lainnya sebenarnya sudah lolos, berhubung merasa senasib sepenanggungan. Kami semua bersama tour guide menyusul teman yang ditahan di kantor imigrasi. Sampai di sana, dikumpulin di satu ruangan. Semua passport diambil, dompet juga diperiksa, uang, atm, kartu kredit.

Dari sekitar 20 orang, ada 6 orang yang dicurigai dan ditolak. Tour guide kami ngotot, bilang kalau kami satu kelompok dan datang untuk tour. Kalau 6 orang ditolak, mendingan semuanya ngga usah masuk Korea. Kebetulan tahun 2002 itu dicanangkan menjadi visit Korea year, menjelang piala dunia. Akhirnya setelah hampir satu jam ditahan di kantor imigrasi, kami semua dibebaskan dan diijinkan masuk Korea. Passport distempel untuk kunjungan selama 30 hari.

Di depan bandara, bus beserta tour guide orang Korea sudah menunggu. Senang rasanya semuanya sukses dan selamat sampai korea. Ngga ada yang dideportasi. Udara di luar lumayan dingin, sekitar 10 derajat celcius. Sebelum ke Hotel, mampir dulu dan makan ayam isi ginseng di salah satu rumah makan. Rasanya sih standar aja, cuma mungkin karena di luar dingin dan baru aja dikagetin di kantor imigrasi, makanya semua makan dengan lahap.
Sampai hotel, semua sibuk beli kartu telpon. Kabari keluarga di Indonesia kalau sudah sukses sampai Korea. Setelah itu baru bisa tidur dengan tenang. Esok kan tiba, waktunya tour keliling Korea.

04 May 2009

Thailand


Ternyata saya kembali lagi ke Taiwan, tepatnya di bandara udara Ciang Kai Sek, Taipei. He he.. meskipun cuma sekedar transit, tapi khan tetap ada di Taiwan. Kangen juga sih. Sempat kepikiran untuk nelpon teman-teman yang ada disana. Di dompet saya masih ada 2 lembar uang kertas pecahan 100 NT. Cuma ngga ketemu yang jual kartu telpon. Lagian cuma bentar transitnya.

Bandara udara Thailand ternyata besar juga. Ngga ada masalah apa-apa disana. Lancar. Di Bangkok ada guide yang bisa bahasa Indonesia. Orangnya lumayan kocak, nyambung kalau ngomong. Setelah istirahat bentar di hotel, langsung diajak city tour. Kunjungan ke tempat ibadah orang Thailand. Di sana banyak teman satu tour yang sembahyang (minta supaya lancar nantinya waktu ke Korea). Setelah itu naik Bus keluar kota, lihat peternakan buaya. Disana ada jual daging buaya, sate buaya lumayan enak. Harganya juga ngga mahal. Kalau saya yang jual, mungkin akan saya buatkan slogan seperti ini...”Makanlah buaya, sebelum anda yang dimakan.”

Malamnya mampir sebentar di supermarket, beli snack dan minuman. Habis itu acara bebas. Yang capek dan ngga mau ikut boleh istirahat di hotel. Sisanya hampir separuh cowok yang masih muda dan ganteng (salah satunya sudah pasti saya) diajak lihat Bangkok di malam hari. Ada Kabaret Show, pemainnya semua banci. Panggungnya “wow”,cerita, kostum dan tata cahaya juga ok. Setelah acara selesai. Kami diajak tour guide ke belakang panggung. Ketemu dengan salah satu primadona panggung. Wajahnya cantik, tinggi, kurus, langsing. Benar-benar ngga bisa dibedakan dengan wanita asli. Setiap orang berebut foto dengannya. Saya juga akhirnya dapat foto bareng. Ngga gratis, harus bayar sekitar 100 bath sekali foto.

Pagi, hari kedua diajak ke pantai Pattaya. Naik speed boat, sampai di tengah laut ada panggung (seperti jermal). Di sana main Parasailing. Tadinya saya kira seru dan menegangkan, ternyata biasa aja. Seperti main layangan, tapi kita yang jadi layangannya.

Setelah itu main sebentar di pantai. Bagus dan bersih. Tapi ngga mandi disana. Cuma jalan-jalan.
Dari pantai, diajak nonton pertunjukan gajah. Hebat juga lihat orang naik gajah dan main bola. Juga ada balapan babi, lucu. Pertunjukan pawang buaya dan semacam tari perang orang Thailand.
Dua hari rasanya cepat berlalu di Thailand. Ngga terasa sudah harus siap-siap lagi. Kali ini memasuki negara ginseng, Korea. Tujuan utama dari tour ini.