
Kolaborasi dengan Cek Kong cuma bertahan selama 3 tahun, akhirnya saya memutuskan untuk pergi meninggalkan beliau. Demi menggapai cita-cita menjadi lelaki mandiri. Banyak suka dan duka, cerita dan pengalaman selama di sana.
Belajar bagaimana caranya mengatur karyawan, proses produksi mulai dari mencampur bahan, mengisi di botol sampai pemasarannya, pergi belanja ke pasar, masak. Bahkan belajar jadi tukang sewaktu atap pabrik roboh dan dibangun kembali menjadi yang baru.
Belajar bagaimana caranya mengatur karyawan, proses produksi mulai dari mencampur bahan, mengisi di botol sampai pemasarannya, pergi belanja ke pasar, masak. Bahkan belajar jadi tukang sewaktu atap pabrik roboh dan dibangun kembali menjadi yang baru.
Teman kuliah ngajak ikut dia. Kebetulan dia sewa tempat kecil di daerah Klari dan buka toko jualan barang-barang listrik seperti lampu,kabel,saklar dan teman-temannya. Ukurannya kecil, paling cuma 3x6 meter. Kalau mau mandi harus minta air sama tetangga sebelah dan kalau mau buang air besar ada disediakan WC umum.
Pernah satu kali WC umumnya rusak, karena overload. Muatannya terlalu banyak dan meluap sampai jauh... So, ngga bisa BAB di sana. Tiap pagi kalau “ada panggilan alam”, terpaksa harus naik angkutan kota ke Karawang dan menyelesaikan masalah di sana. Jangan sampai nunggu sakit perut baru berangkat, bisa-bisa “muatannya” tercecer di angkot.
Pernah satu kali WC umumnya rusak, karena overload. Muatannya terlalu banyak dan meluap sampai jauh... So, ngga bisa BAB di sana. Tiap pagi kalau “ada panggilan alam”, terpaksa harus naik angkutan kota ke Karawang dan menyelesaikan masalah di sana. Jangan sampai nunggu sakit perut baru berangkat, bisa-bisa “muatannya” tercecer di angkot.
Itu baru sedikit masalah, belum lagi masalah makan. Sekarang harus beli sendiri, kadang masak sendiri. Kebetulan sebelah ada warung nasi, makanya sering beli disana. Kalau mau hemat biasanya saya ambil nasinya banyak-banyak terus ditambahi sayur dan ikan. Makan paling cuma habis separuh, sisanya dimakan lagi nanti. Jadi beli sekali buat makan 2 kali.
Harus pintar-pintar ngatur uang, khan sekarang cuma mengandalkan kiriman dari ortu.
Ada kejadian, waktu itu uang di kantong sudah menipis. Saya ke Karawang untuk ambil uang di bank. Sebelum sampai di bank, mampir di tempat persewaan buku. Pilih-pilih novel dan komik, terus bayar. Uang di kantong cuma sisa untuk ongkos angkot pulang. Lalu ke bank dan mau ambil uang, ternyata... uang kiriman dari ortu belum masuk.
Wah... Dengan lesu saya pulang ke Klari. Teman saya heran, kok saya ngga makan. Padahal sudah malam. Akhirnya saya cerita dan pinjam duit sama dia.
Untuk mengisi waktu saya biasanya baca, soalnya kuliah juga udah mulai jarang. Kalau lagi ada duit biasanya sewa buku, beli tabloid Otomotif, kadang pinjam koran sama tetangga.
Suatu hari ada gambar Son Go Ku ( Dragon Ball ) di koran. Besoknya saya ke Karawang beli pensil warna kayu murahan. Dinding dekat tempat tidur jadi korban, saya gambari Son Go Ku. Ukurannya lumayan besar, mungkin 1x2 meter.
Teman saya protes, takut kalau di marahi pemiliknya. Tapi setelah gambarnya selesai, dia malah bantu kasih warna. Tiap kali kalau ada pemiliknya datang untuk nagih uang sewa, lampu sebelah dalam dimatikan biar gelap dan ngga kelihatan.
No comments:
Post a Comment